SORE, HUJAN DAN MATCHA
Aku mengusap wajahku perlahan, dingin air hujan terasa lebih di pipi. Di luar hujan, tidak deras, namun dinginnya mampu menyusup masuk sampai tulang. Sesaat aku tak percaya, kini aku berada di kota ini, kotamu,..
“Kau akan suka kota ini!”
Sebuah suara rendah dan tegas membuyarkan lamunan. Secangkir matcha hangat tersaji di depanku, aku tersenyum, si empunya suara duduk tepat di depanku, meletakkan secangkir kopi hitam dengan tangan kirinya.
“Bagaimana Abang bisa tahu?”
Mata lelaki yang aku panggil Abang ini menatapku lembut. Tatapan yang mampu
membuatku tersipu. Tatapan yang belum pernah aku dapat sepanjang hidup, dari siapapun.
“Abang tahu tentangmu, lebih dari yang kau yakini tentang dirimu”
Aku menoleh ke arah jendela di sebelah kiri dengan salah tingkah. Menyembunyikan pipi yang menghangat dan senyum yang tampak seperti remaja pada cinta pertamanya. Sebuah
keyakinan yang terdengar tidak berlebihan. Porsinya sesuai, seperti rasa sedikit pahit yang lembut berpadu segar dan gurih di akhir pada matcha panas yang baru saja aku minum.
“Apakah ini juga tentang keyakinan Abang, bahwa aku akan datang di tempat
yang kita sepakati lima tahun lalu?”
“Apakah ada alasan untuk tidak yakin, Kekasihku?”
Aku menyesap lagi matcha yang sudah terasa tidak terlalu panas. Pandanganku tertuju
pada wajah yang sempat menghilang selama lima tahun. Selama itu pula aku setia mengumpulkan rindu, menyimpannya dalam kotak merah jambu dan dengan bangga kubawa serta datang di kotanya.
“Ada apa dengan kota ini? Mengapa Abang yakin aku akan suka dengan kota
ini?” Ada getar tawa yang aku paksakan menutupi gemetar yang tiba-tiba muncul. Aku menikmati sensasi gemuruh di dada. Selalu ada perasaan ini saat aku bersama Abang, namun kali ini berbeda.
“Hujan selalu turun di kota ini, jika tidak deras, dia akan selalu ada meski dalam
gerimis,.”
Aku menanti kalimat selanjutnya yang mungkin akan ada setelah dia meminum sedikit kopinya dan memakan kentang goreng yang terhidang diantara kami. Aku tak menghitung berapa kali jarum detik berputar. Aku menikmati keheningan ini, semua sudah cukup ketika kami berbincang. Semua tampak baik-baik saja.
“Kamu sangat menyukai hujan, mulai dari dingin angin yang mengabarkan hujan
akan turun, gelap mendung yang melindungimu dari rasa sepi, rintiknya yang bagimu adalah salam penuh kerinduan, dan deras air langit yang
turun, membuatmu memiliki ide-ide untuk tulisanmu bahkan bau tanah setelah
hujan, selalu membuat nuansa berbeda”
Aku tersenyum, Lelaki berusia lebih tua empat tahun dariku ini
menggambarkan dengan detail perasaanku tentang hujan. Dia membuktikan ucapannya yang mengenaliku lebih dari keyakinanku.
“Kau tahu Kekasih,… caramu menghirup petrichor tak akan pernah bisa
aku gambarkan, seperti engkau mencium bau termagis didunia ini”
“Yaaa,.. dan aku merasa kata petrichor ini sangat indah, magis dan
seksi”
Kami tertawa, tubuhku sudah mulai hangat. Suara hujan masih terdengar, mengiringi obrolan kami
“Hanya karena kota ini selalu hujan, maka Abang yakin, aku akan suka kota
ini?
“Tentu tidak”
“Lalu?”
Abang menatapku lama, kedua tangannya menggengam diatas meja. Tersenyum,
lalu hening. Aku bisa mendengar dengan jelas suara detak jam dinding di tembok
belakangku. Juga suara lirih cicak yang berusaha terdengar. Aku bersiap mendengar sebuah kalimat.
“Tinggallah di sini,. di kota ini,. di rumah ini,.”
Pinta yang sama seperti sepuluh tahun lalu, saat kami pertama bertemu, lalu
sepakat bertemu di setiap sore di hari-hari selanjutnya.
Sepuluh atau bahkan lima tahun yang lalu, permintaan ini aku jawab dengan
tawa menggantung. Bukan karena aku tak pernah yakin pada Abang, namun aku belum juga yakin dengan diriku.
“Bagaimana?” Tanya Abang penuh harap
Aku mengalihkan pandanganku ke arah langit-langit. Berusaha menyembunyikan
bulir air mata yang menyeruak keluar. Rumah ini memiliki semua
kehangatan dan kenyamanan yang aku impikan. Rumah ini dan Abang adalah rumah
dalam arti sebenarnya, tempatku pulang. Dan kini, salah satu rumah
memintaku untuk menetap. Sebentar lagi semua akan terasa sangat sempurna. Apakah sudah saatnya?
Aku menatap wajah Abang yang membeku menatap deras hujan.. Secangkir matcha telah dingin. Kursi dihadapannya kembali kosong. sebentar lagi lelaki itu akan menghela nafas panjang. Kembali menjalani cerita yang tidak sesuai dengan mimpinya.
Sore, hujan, matcha dan rumah ini
lengkap dengan segenap cintanya.. masih
tak mampu menahanku untuk kembali menghilang.
-ditaolivia-
Semarang, 6 Januari 2026



Komentar
Posting Komentar